Panggilan Sayang

Pada bulan September 2015, ia memanggilku dengan sebutan “Honey.” Aku agak aneh mendengarnya. Ia masih sibuk dengan laptopnya, duduk di beranda rumah. Aku sedang merapikan barang-barang yang berantakan, ketika ia mendekat ke arahku.

“Aku sebentar lagi selesai kerja,”

Aku melihat kearahnya, ia masih menatap layar laptopnya. Ia tak menoleh ke arahku, “Honey,” sebutnya lagi.

“Aku?,” balasku meyakinkan bahwa ia memanggilku.

Continue reading “Panggilan Sayang”

Komitmen

Aku berkomitmen untuk tidak berkomitmen.– Federico Fellini

Apakah salah satu dari kalian pernah memiliki sebuah hubungan pacaran empat tahun? dan ditahun kelima salah seorang diantara kalian berdua ada yang mengajukan untuk menikah?. Ya. Menikah! Hubungan pacaran kalian tidak lagi sekadar diketahui keluarga, teman-teman di lingkungan bermain, teman di kantor tetapi juga tercatat di catatan sipil — sebagian menganggap bahwa hubungan yang dicatatkan lembaga pemerintah adalah hubungan yang serius– bagaimana dengan kamu?

Continue reading “Komitmen”

Ketika kami bertemu, lagi

Aku melepaskan tali sepatu boot coklatku di bibir pintu, menjinjingnya ke kamar dan meletakannya pada rak sepatu paling bawah. Malam sudah pukul 22.12WIB ketika aku sampai di kamar sewaku dan mendapati kamar yang berantakan: kasur dan bantal tanpa seprai. Selimut tak terlipat dengan rapi dan dua boneka besarku tergeletak begitu saja.

Pada kasur yang tanpa seprai itu kurebahkan punggungku. Aku berbaring tanpa melepaskan gaunku dan menggantinya dengan pakaian tidur. “Lima belas menit dulu, aku mencuci muka dan akan tidur,” kataku pada diri sendiri. Aku mencoba memejamkan mata, mengingat apa yang telah terjadi sepanjang siang hari.

Continue reading “Ketika kami bertemu, lagi”

Mencatat — Lagi.

Entah sejak kapan, kegemaranku mencatat hilang. Aku tidak lagi mengingat-ingat apa yang ingin aku catat pun tak lagi mencatat apa yang ingin aku ingat. Aku telah berlatih menjadi pelupa yang pandai. Seorang pandai yang lupa kegemarannya mencatat. Lantas suatu hari, pada petang yang membosankan aku melupakan kepandaianku untuk menjadi pelupa.

Kemudian, aku mulai mencatat—lagi.

Continue reading “Mencatat — Lagi.”